Ilmu akan bermanfaat jika disebarkan dan dirasakan oleh setiap insan. Selamat Membaca!
Rabu, 14 Maret 2018
Puisi
Pergerakan...
Berlarung larung aku mengiba...
Berlarung larung aku meminta...
Kemakmuran...
Kekayaan...
Tak Ku terima sama sekali
Demi bulan dan bintang yang bersinar sepanjang zaman
Demi matahari yang panasnya sampai ke bumi
Aku tak akan pergi...
Aku tak akan pergi hingga kudapati anak-anak ku mendapat keadilan sejati
Perlawanan adalah jalan yang ku tempuh
Perjanjian beradab berlolongan mencari dan menjadi
Api Tani... semogalah membakar kemunafikan hati
by : API TANI Jember, PC PMII Jember
Mini Paper
Pendidikan Menjadi Masalah Sosial
yang Berkelanjutan di Indonesia
Pendidikan merupakan sarana yang sangat penting bagi
seseorang terutama anak-anak untuk mencapai kesuksesan yang dicita-citakan.
Pendidikan menjadi alat untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki oleh
anak-anak dan menjadi sarana untuk mempelajari suatu hal yang muncul dari
ketidak tahuan seseorang akan sesuatu. Sehingga mereka memiliki jati diri dan
mampu meraih cita-cita yang mereka memiliki serta memahami hakikat dirinya
sebagai manusia.
Namun dalam perjalanannya, berbagai masalah selalu
menerpa. Terutama yang terjadi di Indonesia yang merupakan sebuah negara yang
berkembang. Berbagai masalah sosial terutama di bidang pendidikan terus
bermunculan. Hal ini menuntut semua elemen masyarakat dan pemerintah untuk
berusaha memperbaiki pendidikan yang ada di Indonesia, agar nantinya pendidikan
yang ada dapat dinikmati oleh anak-anak Indonesia yang memiliki impian dan
cita-cita yang beragam.
Masalah sosial menyangkut nilai-nilai sosial dan moral.
Masalah tersebut bersifat sosial karena bersangkut paut dengan hubungan antar
manusia dan di dalam kerangka kebudayaan-kebudayaan normatif, dan masalh
tersebut bersangkut paut dengan gejala-gejala yang mengganggu kelanggengan
dalam masyarakat (Soekanto, 2013). Seperti yang telah dipaparkan di atas, masalah
dalam bidang pendidikan termasuk dalam masalah sosial karena tidak sesuai
dengan nilai-nilai dan kebudayaan normatif. Ada berbagai masalah terkait
pendidikan yang terus bermunculan di Indonesia, seperti :
1. Tingginya angka putus sekolah di Indonesia
Seperti yang dikutip oleh Kompas.com(06/02/2018), ketika presiden Joko
widodo blusukan ke desa-desa, beliau masih banyak menemui banyaknya anak-anak
yang seharusnya masih menikmati bangku sekolah tetapi terpaksa tidak
meneruskannya atau putus sekolah. Tak usah jauh-jauh, di Jember sendiri masih
banyak anak-anak yang tidak meneruskan sekolah. Hal ini saya temui terutama di
daerah lereng pegunungan, seperti desa Darsono di dusun Padasan terutama dan
Sumber Candi.
Tentunya banyak hak yang menyebabkan anak-anak tersebut putus sekolah,
seperti faktor ekonomi, budaya, bahkan geografi lingkungan mereka yang jauh
dari sekolah.
2. Pemerataan pendidikan yang kurang
Banyak hal mungkin yang menyebabkan pemerataan pendidikan di Indonesia yang
kurang, seperti yang dikutip oleh Kompas.com(06/02/2018) yaitu fasilitas
pendidikan yang masih sangat buruk, dan buruknya infrastruktur pendidikan
khususnya terjadi di daerah pedalaman.
3. Masih tingginya angka buta aksara di Indonesia
Tak dapat dipungkiri bahwa pendidikan yang belum merata menyebabkan
tingginya angka buta aksara terutama terhadap anak-anak usia sekolah. Di
Indonesia terutama di daerah Timur seperti Maluku, Ambon, NTT, NTB, Papua, dll.
Seperti yang disampaikan oleh Kompas.com (30/03/2017) angka buta aksara di
daerah Timur mencapai 10%. Selain itu, Jawa Timur yang mempunyai SDM tinggi dan
infrastruktur yang cukup memadai juga mempunyai angka buta aksara yang cukup
tinggi khususnya di kabupaten Jember. Angka buta aksara di kabupaten Jember
sendiri masih mencapai 40 ribu orang seperti yang disampaikan Antaranews.com(18/10/2016).
4. Anak dibawah umur banyak yang sudah bekerja dan menikah di usia dini
Kemudian menurut saya, masalah sosial terakhir yang berkaitan dengan
pendidikan adalah masih banyak anak dibawah umur yang bekerja. Tentu saja
banyak faktor yang menyebabkan anak-anak dibawah umur yang harus bekerja
seperti, faktor ekonomi, budaya dan lingkungan.
Masalah-masalah di atas merupakan masalah sosial yang
sampai saat ini masih belum terselesaikan dengan baik oleh pemerintah, Padahal
seperti yang telah tertuang dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1 dan 2, serta UU No.
23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, bahwa pendidikan merupakan hak setiap
warga negara yang harus dipenuhi oleh negara sebagai penyedia layanan
pendidikan. Selain itu, dalam penyelenggaraan layanan pendidikan tersebut harus
merata agar setiap warga negara merasakan layanan pendidikan yang sama.
Beberapa usaha telah
dilakukan seperti pemerintah kabupaten Jember yang membuat program keaksaraan
fungsional, sehingga dapat menurunkan angka buta aksara dari 100 ribu orang
menjadi 40 ribu orang, kemudian seperti yang dilakukan oleh anggota kepolisian di
daerah NTT dari Kompas.com(13/07/2017) yang mengupayakan penuntasan buta aksara
melalui Desa Binaan di Dusun Weain, Desa Kenebibi,
Kecamatan Kakuluk Mesak, Belu. Selain itu di Jember juga dilakukan upaya
menuntaskan masalah sosial juga dilakukan oleh sahabat-sahabat PMII melalui
Komunitas Rumah Pelangi Padasan di dusun Padasan, desa Darsono, Arjasa. Dan
teman-teman HIMAKES, HMJ dari Jurusan Ilmu Kesejahteraan melalui komunitas
Sanggar Anak Merdeka di daerah Sumber Candi. Alhasil dari usaha teman-teman tersebut,
angka putus sekolah, buta aksara, anak dibawah umur yang bekerja maupun menikah
dini lambat laun berkurang.
Namun usaha dari pemerintah, maupun teman-teman mahasiswa tersebut akan
terus berlanjut, dan tentunya membutuhkan dukungan dan bantuan dari masyarakat,
agar masalah sosial pendidikan yang ada dapat terselesaikan bersama-sama.
Sehingga kelak anak-anak Indonesia yang memiliki berbagai impian dalam mewarnai
Indonesia di masa depan dapat tercapai melalui layanan pendidikan yang memadai.
Selasa, 06 Maret 2018
Mini Paper
Krisis Kebudayaan Ancaman
Persatuan Bangsa
Indonesia merupakan negara yang multikultural dengan
berbagai keragaman budaya yang dimilikinya. Multikultural sendiri menurut KBBI
(Kamus Besar Bahasa Indonesia) berarti keragaman budaya. Keragaman yang
dimaksudkan di sini adalah bermacam-macamnya suku, bahasa daerah, adat istiadat,
ras, kebudayaan dan lain sebagainya yang ada dan tersebar di berbagai daerah di
Indonesia dan setiap daerah mempunyai ciri khas budaya masing-masing. Tentu
saja hal ini menyebabkan Indonesia menjadi negara yang kaya akan kebudayaan dan
membedakannya dengan negara-negara yang lain.
Keragaman yang dimiliki Indonesia tersebut menimbulkan
suatu integrasi antara kebudayaan satu dengan kebudayaan yang lain. Integrasi sendiri
bermakna satu kesatuan menjadi sesuatu yang padu dan utuh (KBBI V), hal
tersebut memunculkan kesadaran dan kesepemahaman antar kebudayaan yang berbeda
sehingga menjadi sesuatu yang padu dan menumbuhkan sikap toleransi tanpa
menimbulkan sikap diskriminatif terkait SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar
golongan). Kehidupan yang tenteram dan saling menghargai dengan sendirinya akan
muncul dengan sikap toleransi tersebut dan keadilan sosial yang termaktub dalam
Pancasila akan terwujud, serta masyarakat dapat hidup berdasarkan kebudayaannya
masing-masing dengan tenang dan damai.
Seiring dengan berkembangnya zaman, berbagai macam budaya
asing terutama budaya barat perlahan-lahan masuk ke Indonesia. Budaya asing
tersebut sebagian besar mendominasi masyarakat Indonesia dan perlahan-lahan
menggantikan budaya asli Indonesia yang telah lama ada. Sebagai bangsa yang
multikultural, Indonesia sangat rentan terhadap perubahan yang terjadi.
Sehingga masyarakat Indonesia harus selektif dalam menanggapi berbagai budaya
asing yang masuk ke Indonesia.
Masuknya berbagai budaya asing yang kental akan
kekerasan, kebebasan seakan-akan mudah masuk ke dalam otak anak-anak bangsa.
Film, sinetron dan televisi yang menampilkan adegan-adegan kekerasan dapat
diakses dengan mudah oleh semua kalangan termasuk anak-anak, sehingga anak-anak
dapat menirunya dan bahkan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini
terjadi karena biasanya anak-anak memposisikan dirinya seperti tokoh yang ada
dalam tayangan televisi dan seolah-olah dia berada dalam sebuah film, atau
karena dia merasakan adegan yang ada dalam film/tayangan televisi tersebut
memang terjadi dalam realita kehidupan sehari-hari. Hal ini tentu saja sebuah
kemerosotan moral, dimana budaya Indonesia yang terkenal ramah dan saling
memaafkan, hilang dengan mudah dikarenakan berbagai tayangan-tayangan yang
sebagian besar berasal dari luar Indonesia.
Selain itu, hidup serba mewah selalu ditayangkan dalam
film, sinetron maupun televisi. Hampir tidak ada adegan dalam sinetron yang
menampilkan kesederhanaan dan perjuangan hidup untuk tujuan yang mulia. Sehingga
hal ini dapat merubah kebiasaan masyarakat Indonesia yang hidup sederhana
menjadi budaya konsumerisme dan serba mewah.(Santiko dalam Sarumpaet, 2016)
Selain kemewahan, perasaan dendam, kelicikan, keculasan
pengkhianatan dan memaki-maki orang juga sering dipertontonkan. Sehingga secara
tidak langsung dapat mempengaruhi budaya yang ada di Indonesia, dan ditiru oleh
masyarakat.
Bidang politik juga mengalami krisis kebudayaan, dimana
politik yang seharusnya hanya digunakan sebagai sebuah sistem dalam menuju pemerintahan
yang bersih, namun dinodai dengan berbagai isu-isu yang dilemparkan antar
pihak-pihak yang berseteru. Seperti yang terjadi pada saat ini menjelang tahun
politik 2019. Berbagai macam isu tersebar dimana-mana, mulai dari isu agama,
ras, etnis, mengadu domba antar golongan. Semua itu dilakukan hanya karena
ingin memiliki kedudukan dan kekuasaan dalam pemerintahan serta mungin saja
keuntungan sebanyak-banyaknya, sehingga melestarikan budaya korupsi yang
merugikan rakyat. Mereka saling berebutan seolah-olah kursi pemerintahan adalah
sebuah harta karun yang harus diperebutkan dengan melakukan cara apa saja.
Rakyat dibuat bingung dan hanya dimanfaatkan dengan membeli suaranya. Sistem
demokrasi yang seharusnya berpihak kepada rakyat, justru digunakan oleh para
oknum-oknum politik sebagai tameng dalam meraih kekuasaan.
Dapat dikatakan bahwa kebudayaan Indonesia saat ini
sedang kritis. Disintegrasi kebudayaan terjadi dimana-mana. Masyarakat lebih
senang hidup dengan pola hidup barat yang serba bebas dan mewah daripada hidup
sesuai dengan budaya Indonesia yang sederhana dan ramah. Kita telah lama
disuguhi dengan apa yang kita namakan krisis kebudayaan, hal tersebut merupakan
sebuah penyakit yang menggerogoti sistem sosial budaya yang ada di Indonesia
dan merusak persatuan Indonesia. Jelas krisis kebudayaan merupakan ancaman
nyata bagi Indonesia, khususnya sistem sosial budaya Indonesia. Lantas
bagaimana cara untuk mengobatinya?
Kuncinya ada dalam diri kita sendiri, yaitu tekad untuk
mengakhiri “krisis” kebudayaan ini. Tentu saja hal ini tidak semudah
membalikkan tangan. Lagi pula, tak mungkin kita mengembalikan apa yang telah
hilang. Namun hal ini sedikit demi sedikit dapat dikurangi jika kita
menyadarinya dan memiliki keinginan untuk merubahnya dan tidak mengikuti arus
yang ada.(Zaimar dalam Sarumpaet, 2016: 149)
Selain itu jika masyarakat dapat menyikapi perubahan yang
terjadi dengan bijak, maka kebudayaan yang ada dapat terjaga dengan baik dan
tidak akan menimbulkan perpecahan antar masyarakat. Indonesia juga sudah
mempunyai suatu ideologi negara yang seharusnya diterapkan nilai-nilainya dalam
kehidupan sehari-hari, ideologi tersebut adalah Pancasila. Apabila masyarakat
sudah memahami nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, maka perubahan
apapun yang terjadi tidak akan merusak berbagai keragamaan kebudayaan yang ada
di Indonesia.
Langganan:
Postingan (Atom)
Dampak adanya Virus Corona Terhadap Kehidupan Sosial Masyarakat
Dampak adanya Virus Corona Terhadap Kehidupan Sosial Masyaraka t Nama : Nita Purnamasari NIM : 180910302003 Duni...
-
logo FISIP Universitas Jember Rekrutmen Anggota Baru sebagai Awal Proses Perencanaan Sumber Daya Manusia Organisasi Tugas Resu...
-
Logo FISIP Universitas Jember Netralitas Kepala Daerah terhadap Pemilu 2019 Dipertanyakan Makalah Diajukan guna memenuhi tuga...